Jumat, 01 Maret 2013

1.3.13


Awal berkecimpung di organisasi adalah waktu SMA. Aku terobsesi menjadi seorang petugas upacara terlebih lagi pembawa bendera. Niat yang sudah aku kantongi membuatku rela latihan baris-berbaris di tengah lapangan dari siang hingga sore. Menjadi hitam, jelek, dan berdebu adalah pilihan yang sama sekali ga bikin nyesel. Karena dibalik itu semua, aku dapat sesuatu yang lebih. Pengalaman dan pembelajaran paskibra ternyata tidak terhenti pada aturan PBB, jauh kedalam mereka -para senior- yang sudah aku anggap seperti kakak sendiri mengajariku attitude yang ga akan pernah aku dapat di tempat lain. Adhek-adhek juniorku pun memberikan kesempatan untuk menerapkan apa yang sudah aku dapat sehingga pelajaran itu tercekat. 

Kecintaanku terhadap organisasi memberikan banyak manfaat dan aku meneruskannya pada saat kuliah. Masa yang (katanya) lebih menempaku atas kehidupan. Organisasiku berubah haluan, aku memilih kesenian yang jelas bertolak belakang dari masa SMAku. Aku mempunyai keluarga baru. Kakak dan adhek yang baru. Satu hal lagi aku temukan passion yang selama ini aku cari. 

Semua pengalaman itu membuat aku bersyukur, atas waktu dan energi yang diberikan Tuhan selama ini. Aku harap Dia tidak merasa aku menyia-nyiakan anugerahNya. Namun hidup adalah proses yang tidak akan habis termakan monster waktu. Justru hidup akan selalu menghadapkan kita pada suatu masalah. Masalah yang bisa kita anggap masalah atau kesempatan belajar. Tanggungjawab yang lebih pasti bisa diturunkan berbanding lurus dengan usia yang kita capai dan proses yang kita telan. Saat tanggungjawab itu kini muncul, aku masih berkata "nggak siap".

Rasanya seperti pembual besar yang mengecam pelatihan mental organisasi namun mengeyam ketidaksiapan berperan paling besar. Sampai detik ini (16:32) aku belum tau apa yang akan aku sampaikan dan dengan apa aku meyakinkan mereka bahwa aku bukan orang yang tepat. Hanya ada alasan untuk berkata bukan saya orangnya. Mungkin aku salah satu orang yang menganggap masalah itu masalah, bukan sebaliknya. I'm feeling so bad to get a responsibility. Entahlah, aku hanya ingin menunggu saat itu tiba. Tanpa ada jaminan apakah aku bisa menjalankannya dengan cerdas.

Dua jam lagi kurang lebih.
Tidak ada kalimat yang tersusun dengan benar.
Aku maju tanpa visi, peta, dan kutub.
Aku hanyalah seorang pengemis ilmu yang hanya ingin melengkapi, 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar