Sabtu, 16 Juni 2012

Kemarin Sabtu

Kemarin ya, memang ga terlalu special tapo entah kenapa aku yang jadi heboh (hhe). Kemarin aku ngabisin kurang lebih 1/3 hari diluar rumah. Hari ini pertama kalinya aku nonton sendirian, kedapetan studio yang sepi penonton padahal filmnya berkualitas. Bukan menyalahkan penontonnya sih, justru malah aku yang telat nonton filmnya makanya ketinggalan rombongan. Film yang sudah dirilis dari 7 Juni lalu benar-benar memukau. Ceritanya, tokohnya, sinematografinya, it is otstanding. Tak heran Garin Nugroho adalah nahkodanya.
Berikut ini sinopsis yang aku ambil dari
www.21cineplex.com

Film ini ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Adalah Soegija (diperankan Nirwan Dewanto) yg diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu adalah satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya.
Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem (diperankan Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (oleh Abe), kakaknya. Ling Ling (oleh Andrea Reva) terpisah dari ibunya (oleh Olga Lydia).
Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (oleh Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang.
Robert (oleh Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya.
Di tengah perang pun Hendrick (oleh Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang.
Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.

Tapi saranku, coba tonton film Soegija tanpa membaca sinopsisnya, apakah pesan dalam film itu bisa bener-bener tersampaikan atau enggak. Karena jujur, aku sendiri lumayan sulit dalam menafsirkan frame-frame simbolik yang Garin Nugroho suguhkan dalam film tersebut. Media yang mengkoar-koarkan bahwa film ini cocok untuk para Pejabat -permisi- busuk, membuat aku menebak isi film ini adalah seputar politik dan tata cara pemerintahan. Namun justru bukan disitu esensinya. Film ini cenderung pada visi kemanusiaan, menyangkut hati dan bukan semata-mata politik dan kekuasaan. Lewat film ini seluruh awaknya bertutur, aku rasa bukan hanya tertuju pada pejabat namun seluruh Indonesia. Lahir dilatar belakangi Hari Kebangkitan Nasional, film ini menyentuh kita untuk menyadari Persatuan, bersatu, berkasihsayang, saling tolong-menolong demi negara tercinta. Pesan terakhir Soegija dalam film ini politikus harus bermental politik, kalu tak punya itu maka yang ada hanyalah kekuasaan bukan keinginan untuk memakmurkan negara (kurang lebih seperti itu).

Selain itu dari segi sinematografi, aku sebagai penonton awam begitu menikmati scene bahakan tiap frame yang disuguhkan. Anggun dan menawan. Pergerakan kamera, komposisi, cahaya, seluruh komponennya menyatu dengan apik di tangan sang maestro yang juga menyutradarai film Duan Di Atas Bantal tersebut.

Selamat buat Pak Garin, Crew, dan Pemain film Soegija, kalian berhasil mewakili putra-putri bangsa mempersembahkan karya berkualitas untuk bangsa dalam rangka kebangkitannasional. Hebat!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar