Poster Film Habibie&Ainun
Temen-temen sekitar saya pasti tau kenapa saya ngebet banget nonton
film ini dari beberapa bulan yang lalu sejak saya tau dari (ehem) pacar
saya kalo film ini dalam proses penggarapan (hhe). Dua orang laki-laki
yang jadi magnet dalam film ini (yap) Reza Rahadian dan Bachrudin Jusuf
Habibie. Keduanya benar-benar magnet yang mengagumkan bagi saya bahkan
sampe detik ini. Tulisan ini saya anggap bukan kritik tapi inilah reaksi
dari seorang yang suka nonton film setelah ngeliat film yang dia
tunggu-tunggu.Berikut sinopsis film yang diproduseri MD Pictures ini.
Habibie & Ainun bercerita tentang perjalanan cinta antara Mantan
Presiden ketiga RI, Pak habibie dengan istri tercintanya Bu Ainun. Di
adaptasi dari sebuah buku karya Pak Habibie sendiri, film ini bercerita
romantis. Habibie yang biasa di sapa Rudi (Reza) bertemu dengan Ainun
(Bunga) saat dia kembali dari Jerman karena mengidap penyakit
Tuberkulosis. Dari pertemuan pertama mereka langsung terpikat satu sama
lain. Perjuangan Rudi mendapatkan Ainun jadi terasa mudah meski dulunya
Rudi belum menjadi seseorang yang sukses. Akhirnya Rudi melamar Ainun di
dalam becak dan 12 Mei mereka menikah. Ainun meninggalkan profesinya
sebagai dokter demi menemani Rudi ke Jerman. Mereka berdua hidup disana
selama beberapa tahun. Hidup mereka tidak penuh harta. Namun tidak ada
satupun keluhan yang keluar dari mereka berdua. Mereka memperlihatkan
berumah tangga yang baik. Istri yang selalu mendukung suaminya,
menjalani hidup dengan tegar, dan selalu bahagia dengan apapun yang
suaminya berikan. Serta suami yang selalu ingin memberi yang terbaik
untuk sang istri. Mereka berdua benar-benar memiliki cinta yang sejati.
Kesulitan itu berakhir setelah Rudi berhasil dengan penemuannya yang
diterapkan pada kereta api modern. Kehidupan mereka pun makmur. Hingga
suatu saat Indonesia memanggil Rudi yang memaksanya meninggalkan Ainun
dan kedua anak mereka di Jerman. Karir Rudi Habibie semakin menajak
sampai akhirnya dia bisa membuat pesawat terbang (baca: truk terbang).
Kesuksesan yang lain datang begitu pula dengan gangguan-gangguannya.
Namun Habibie punya istri yang hebat dibelakangnya. Akhir film ini tentu
sudah diketahui seluruh penonton. Ainun meninggal akibat Kanker Ovarium
stadium 3 yang telah lama ia sembunyikan dari Rudi, suaminya.
Waktu Ainun menjalani pengobatan kanker di Jerman
Romansa cinta yang sarat akan keterikatan emosi. Awalnya saya ragu
abang saya (baca: Reza Rahadian-hhe-) disandingkan bersama Bunga Citra
Lestari, namun setelah nonton film ini keraguan itu hilang. Bunga Citra
Lestari menurut saya membawakan sosok Bu Ainun dengan cukup bagus dan ga
mengecewakan. Dia hadir sebagai sosok istri sekaligus ibu negara yang
kuat dan mencintai suaminya. Namun ada beberapa yang terlalu berlebihan
misal waktu marahnya Ainun ketika Habibie tidak mau istirahat. Reza
Rahadian berhasil menunjukkan citranya sebagi Aktor Terbaik, dia
membawakan peran Pak Habibie dengan sangat sangat sangat sangat sangat
bagus tanpa celah. Gestur tubuhnya, cara berbicaranya, cara tertawanya,
caranya bersikap, berjalan, semuanya begitu mirip dan menghadirkan sosok
Pak Habibie ditengah gedung bioskop. Waktu dia menangis itu airmata
yang tidak dibuat-buat. Menangisi pesawatnya, menangisi kepergian bu
Ainun, semuanya berhasil mengharu birukan dan membengkakkan mata
penonton. Begitu pula dengan pemain-pemain pendukung yang tak tampil
sia-sia, mereka turut memberikan warna sehingga film ini tak
membosankan.
Faozan Rizal berhasil mengeksekusi film ini menjadi drama romantis
yang menyejukkan. Ginatri S. Noer dan Ifan Adriansyah Ismail sebagai
penulis skenario pun menyampaikan cerita cinta yang penuh konfilk
sederhana namun mengalir realistis. Di dukung dengan penataan artistik
yang membuat kita kenal Indonesia jaman dahulu. Film ini mengalir dengan
nyaman.
Bumbu yang agak tidak menyedapkan dalam film ini adalah Iklan. Baru
kali ini saya nonton film dengan iklan sebanyak itu. Promosinya pun tak
sebatas lewat, beberapa dialog menyuarakan iklan tersebut secara
tersirat. Selain itu Make-up yang tidak konsisten. Waktu yang berlalu
beberapa puluh tahun tidak begitu memperlihatkan perubahan wajah kedua
pemeran utama. Bu Ainun pada beberapa acara kenegaraan kadang terlihat
tua kadang pula terlihat masih muda. Wardrobe pun begitu, salah satu
anak Habibie saya perhatikan memakai jaket yang sama dibeberapa scene
yang berselang hari.
Namun saya salut dengan dokumentasi beritanya. Ketika penerbangan
pertama pesawat (lupa angkanya hhe) yang diciptakan Habibie dan
anak-anak Indonesia yang dihadiri presiden Soeharto serta
dokumentasi-dokumentasi tragedi-tragedi yang berlangsung saat itu.
Selain itu lokasi dan properti syuting yang menyerupai aslinya, menambah
kesan wah pada film ini.
Eksplorasi sinematografi kurang maksimal, terlebih ketika adegan
Habibie berjalan di salju yang lebat. Kalau menurut pacar saya
pemajangan foto Reza Rahadian di samping foto Pak Soerharto itu pun
menganggu (hhe, tapi scene itu bikin ketawa). Menurt saya pun begitu,
karena sebelumnya tokoh pak Harto sudah diperankan oleh orang lain
kenapa bukan foto orang itu saja yang dipajang. Dan scene terakhir
memperlihatkan Pak Habibie asli yang mengunjungi makaM Bu Ainun (abang
Rezanya ga dikeliatin).
Sang sutradara yang biasa dikenal sebagai sinematografi film
Tendangan dari Langit dan Perahu kertas ini pun, cukup bagus mengawali
debut pertamanya sebagai sutradara. Film Habibie & Ainun laku keras
dan menyita perhatian penonton Indonesia. Film Indonesia rasanya tak
terpuruk karena dicintai bangsanya sendiri. Over all, Habibie &
Ainun menghadirkan drama cinta romantis yang dirindukan. Dewasa namun
tak dewasa, penuh sikap dan emosi intelektual.
romansa cinta Habibie&Ainun
Sebenernya kalo kita jeli, kita sebagai penonton bisa mengambil hal
lain dalam film tersebut. Inspirasi untuk mencintai bangsa, pengalaman
dalam kegagalan, kegigihan dan ketekunan dalam mengarungi hidup serta
sikap seorang negarawan pun tampak. Hal itu diperlihatkan secara nyata
dari dua pemeran utama film ini. Habibie & Ainun bukan sekedar
cuplikan, meski itu kisah 48 tahuan lebih yang dirangkum dalam kurang
lebih 120 menit. Bukan sekedar keindahan yang digaungkan komersial. Film
itu menggugah kita, menilik kembali sejarah dan membangunnya kembali.
Jadilah bangsa yang percaya diri, tidak menjatuhkan martabat dan harga
diri didepan bangsa lain. Semoga film Indonesia terus belajar menjadi
lebih baik. Semoga lahir Habibie-Habibie kecil sebagai negarawan yang
mengabdi tulus pada pertiwi yang rindu kepatuhan anaknya.